
Kejadian ini aku alami bulan desember tahun lalu. Saat itu ada seorang laki-laki yang mendekatiku. Aku memanggilnya "mas Bams". Laki-laki berperawakan kerempeng. Umur masih dibawah umurku 2 tahun. Tapi wajah dewasanya terlihat lebih tua dia dibandingkan wajahku. Hidung mancung dan kalimat-kalimat rayuan gombal yang sering terlontar dari mulutnya. Aku mengenalnya 2 tahun lalu di dunia maya dan ternyata ia mantan rekan kerja sahabatku.
Di bulan Desember musim penghujan. Saat hatiku dilanda rasa gundah setelah kegagalanku menjalin hubungan asmara. Ia mendekatiku dan menyita banyak waktuku. Menyerobot sebagian perhatianku. Tapi aku sadar aku keliru, memberi ia peluang memasuki kehidupanku.
Akhir desember aku ingin menghentikan langkah dan segala upayanya mencintaiku. Aku dan ia mampir disebuah kedai kopi dipinggir jalan, sore itu hujan deras mengguyur kota tercintaku. Saat aku mengutarakan keinginanku dan ia termanggu, datang dua laki-laki separo baya menghampiri kedai. Mereka mengendarai satu sepeda motor dan dibelakang sepeda itu ada keranjang besar. Seketika mataku terbelalak melihat isi keranjang motor yang diguyur air hujan itu.Tokek!!! Berisi sangat banyak tokek!! Tokek-tokek itu terdiam dalam guyuran air hujan.
Mas Bamz masih saja terpekur dan merenungi semua ucapanku. Sambil sekali-kali ia menghisap rokoknya dalam-dalam. Aku juga bermain dengan pikiranku sendiri, berkecamuk. Saat mataku menatap keranjang tokek itu...entah kenapa tiba-tiba aq berucap "alhamdulillah hari ini kita bukan tokek". Seketika mas Bamz menoleh menatapku. Mata sayunya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia bertanya "apa yang kamu maksud?". Aku tersenyum memandangnya dan menjawab, "ya alhamdulillah,,,hari ini kita bukan tokek. Coba kalo kita jadi tokek-tokek yang didalam keranjang itu. Sedihkan....kita ditangkap, terpisah dari keluarga,teman dan kekasih. Udah gitu kita dimasukkan ke dalam keranjang...trus dibiarin kehujanan sebelom kita dibunuh". Mendengar jawabanku, pandangannya beralih ke keranjang tokek, dan kembali menoleh padaku sambil tersenyum.
Hujan mulai reda dan aku mengajaknya pulang. Ia menyetujuinya, ketika berjalan menuju motor tiba-tiba mas Bamz membelai kepalaku dan berucap, "terima kasih". Aku bertanya, buat apa terima kasihnya. Tapi ia tidak menjawab cuma tersenyum sambil menatapku sesaat sebelum kami meninggalkan kedai itu.
Sesampai didepan rumah, dan ia pamit pulang.Ia masih menatapku lama sambil berucap terima kasih. Aku cuma tersenyum. Saat aku memasuki rumah, terasa sekali rasa syukur di hatiku. "Alhamdulillah hari ini aku bukan tokek...". Tapi aku lebih bersyukur aku bukan istri mas Bamz. Ya...ia suami orang yang sedang jatuh cinta padaku. Dan aku juga bersyukur, aku bukan mas Bamz. Laki-laki yang sedang diuji kesetiaannya. Alhamdulillah hari ini aku masih tetap aku.