Mataku masih nanar memandang tubuh mungil berlarian di halaman itu. Wajahnya riang tertawa terbahak-bahak. Sesekali aku tersenyum padanya. Hufff....akhirnya kamu bisa diterima di hati mama dan papamu. Ada perasaan lega terbersit dihatiku. Kamu yang lucu dan menggemaskan seperti itu, pasti banyak yang menyukaimu. Tapi mungkin tidak dihati busuk mama dan papamu dulu.
Aku masih ingat jelas rentetan peristiwa yang mengiringi kehadiranmu di muka bumi ini. Sangat jelas dan sungguh jelas diotakku. Berawal dari kecerobohan mamamu, yang tidak berhati-hati dalam bertindak. Mama dan papamu adalah sahabatku. Papamu baru aku kenal setelah pacaran dengan mamamu. Sedangkan mamamu adalah sahabat dari masa kecilku.
Hari itu aku kedatangan kakak dari mamamu. Ia datang sambil menangis, meminta bantuanku untuk membujuk mamamu. Terus terang aku kaget, mamamu hamil....dan ia sudah memakai cara untuk menggugurkan janinnya...yaitu kamu. Tuhan....saat itu yg terpikir diotakku cuma kamu! Aku harus berhasil melindungimu. Dan aku meminta waktu berpikir cara membujuk mamamu. Dengan tekat bulat aku harus berhasil melindungimu.
Sore itu juga aku datang ditempat usaha yang mamamu dirikan. Mamamu memang wanita pekerja keras, diusia mudanya ia sudah memiliki usaha sendiri. Aku berada di dalam kamar tempat kerja mamamu, aku tanya pelan-pelan, terus terang aku takut menyinggung perasaannya yang sedang labil. Dan akhirnya ia mengakui semua....dan aku terdiam ingin menangis didepannya yg sedang menangis pilu, aku tak sanggup menambah beban pikiran ia. Akhirnya dengan satu ucapan yang tiba-tiba keluar begitu saja, ia terdiam...Aku bilang ke mamamu " ada seorang pelacur, ia menjual diri untuk menghidupi anaknya dan menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya. Ia rela menjadi pelacur, demi anaknya. Lha kamu? melakukan "itu" dan kemudian kamu hamil....kamu malah ingin membunuhnya....rendahan mana kamu sama pelacur???". Ia cuma menangis...mamamu menangis dipelukanku. Dan aku bilang satu hal lagi pada mamamu "jika kamu ingin menggugurkan ia,terserah kamu. Tapi kamu jangan cari aku, dan aku rela tidak mengenalmu lagi". Mamamu cuma bisa menggeleng sambil terus menangis.
Laki-laki yang kini menjadi papamu mau bertanggung jawab saat itu. Mama dan papamu akhirnya mempertahankan kamu. Hufff....lega juga. Dan sekarang, kamu sudah hadir disini. Diantara kami..Kamu tumbuh sempurna...lucu dan menggemaskan. Selamat datang di dunia...cantik.....
Selasa, 16 Juni 2009
Senin, 08 Juni 2009
menghargai diri sendiri
Hal yang menurutku sulit adalah menghargai diri kita sendiri. Belajar menghargai orang lain mudah, tapi ketika harus menghargai diri kita sendiri kita merasa kesulitan. Jika kita ingin diri kita dihargai orang lain, harusnya kita bisa menempatkan posisi kita untuk dihargai orang lain. Kita sering melakukan tindakan-tindakan yang memalukan diri kita sendiri, dan yang menjatuhkan harkat martabat kita sendiri tanpa kita sadari.
Akhir-akhir ini aku lebih memikirkan diriku sendiri dari pada orang disekelilingku.Hmm...kedengarannya egois ya? Yah mau gimana lagi, siapa yang memikirkan diri kita jika tidak kita mulai dari diri kita sendiri?
Dan ketika benar-benar belajar memperhatikan diri kita sendiri, memahami diri kita sendiri sangatlah sulit. Kadang aku tidak tahu apa yang aku inginkan sendiri. Jadi aku butuh waktu untuk benar-benar memahami diriku sendiri. Semua memang tidak bisa jika memahami secara instant, tapi butuh waktu. Dari tahun ke tahun, semakin aku tahu diriku. Dengan aku semakin tahu diriku, aku semakin tahu cara menghargai diriku sendiri.
Dulu aku sering melakukan hal2 yang jauh dari kata menghargai diri sendiri. Meski akhirnya ada beberapa yang menganggapku angkuh, mereka cuma tidak tahu cara menghargai diri sendiri. Melakukan hal-hal yang tidak merugikan diriku sendiri. Selalu menghitung untung dan rugi dalam melakukan apapun. Itu tindakan yang pertama untuk menghargai diri sendiri.
Tindakan kedua yakni tegas dalam segala hal. Meski kesannya sedikit arogan. Aku harus tegas terhadap siapapun. Dalam menentukan keputusan aku pun bertindak tegas. Aku tidak mau merugikan diriku dalam mengambil suatu keputusan. Agar orang lain tahu apa yang kita suka dan tidak kita suka. Jangan semua terserah pada orang lain dalam mengambil keputusan. Kita harus tahu mana yang baik untuk kita dan kalau bisa yang tidak merugikan orang lain.
Tindakan ketiga dengan ekspresi. Aku tidak pernah ragu menunjukkan ekspresi marah atau ketidaksukaanku terharap tindakan orang lain yang aku kira bisa merugikan diriku. Biar orang lain tidak seenaknya sendiri terhadap diriku.
Ini hanya sebagian saja dari caraku menghargai diri sendiri. Tidak tahu lagi cara orang lain. Ini hanyalah diriku. Entah kamu, ia atau mereka. Kalian punya tata cara sendiri-sendiri.
Akhir-akhir ini aku lebih memikirkan diriku sendiri dari pada orang disekelilingku.Hmm...kedengarannya egois ya? Yah mau gimana lagi, siapa yang memikirkan diri kita jika tidak kita mulai dari diri kita sendiri?
Dan ketika benar-benar belajar memperhatikan diri kita sendiri, memahami diri kita sendiri sangatlah sulit. Kadang aku tidak tahu apa yang aku inginkan sendiri. Jadi aku butuh waktu untuk benar-benar memahami diriku sendiri. Semua memang tidak bisa jika memahami secara instant, tapi butuh waktu. Dari tahun ke tahun, semakin aku tahu diriku. Dengan aku semakin tahu diriku, aku semakin tahu cara menghargai diriku sendiri.
Dulu aku sering melakukan hal2 yang jauh dari kata menghargai diri sendiri. Meski akhirnya ada beberapa yang menganggapku angkuh, mereka cuma tidak tahu cara menghargai diri sendiri. Melakukan hal-hal yang tidak merugikan diriku sendiri. Selalu menghitung untung dan rugi dalam melakukan apapun. Itu tindakan yang pertama untuk menghargai diri sendiri.
Tindakan kedua yakni tegas dalam segala hal. Meski kesannya sedikit arogan. Aku harus tegas terhadap siapapun. Dalam menentukan keputusan aku pun bertindak tegas. Aku tidak mau merugikan diriku dalam mengambil suatu keputusan. Agar orang lain tahu apa yang kita suka dan tidak kita suka. Jangan semua terserah pada orang lain dalam mengambil keputusan. Kita harus tahu mana yang baik untuk kita dan kalau bisa yang tidak merugikan orang lain.
Tindakan ketiga dengan ekspresi. Aku tidak pernah ragu menunjukkan ekspresi marah atau ketidaksukaanku terharap tindakan orang lain yang aku kira bisa merugikan diriku. Biar orang lain tidak seenaknya sendiri terhadap diriku.
Ini hanya sebagian saja dari caraku menghargai diri sendiri. Tidak tahu lagi cara orang lain. Ini hanyalah diriku. Entah kamu, ia atau mereka. Kalian punya tata cara sendiri-sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)
